Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2021 yang mengatur tentang Percepatan Penurunan Stunting yang holistik, integratif, dan berkualitas melalui koordinasi, sinergi, dan sinkronisasi di antara
pemangku kepentingan merupakan salah satu bentuk upaya Pemerintah dalam mengurangi angka stunting di Indonesia. Pelaksanaan Percepatan Penurunan Stunting dengan kelompok sasaran meliputi remaja; calon pengantin; ibu hamil; ibu menyusui; dan anak berusia O (nol) - 59 (lima puluh sembilan) bulan. Saat ini di
beberapa daerah capaian prevalensi sudah dibawah 20% namun masih belum memenuhi target dari RPJMN tahun 2024
sebesar 14%. Pada daerah Kendal berdasarkan per Februari 2022, tercatat sebanyak 7.829 anak di Kendal mengalami stunting. Kemudian pada akhir Agustus 2022, angka stunting turun dari 13,3 persen menjadi 11,4 persen. Artinya, masih ada 6.413 anak di Kendal yang masih mengalami stunting. Masa remaja merupakan suatu masa peralihan dari anak anak menjadi dewasa. Para remaja baik laki-laki
maupun perempuan keduanya tentu akan melalui fase pubertas. Remaja menjadi tanda periode siklus kehidupan yang mempunyai kebutuhan nutrisi total tertinggi dan periode pertumbuhan fisik kedua yang terjadi selama tahun pertama kehidupan. Selama massa remaja individu mencapai 50% BB dewasa dan sampai 40%massa otot dewasa. Oleh karena itu nutrisi yang tidak adekuat selama masa ini akan mempunyai konsekuensi jangka panjang pada penurunan massa tulang, pertumbuhan terhambat dan masalah kesehatan dikemudian hari. Masalah gizi pada anemia merupakan kondisi sakit seseorang yang disebabkan oleh berbagai faktor, diantaranya yaitu perdarahan, kekurangan makanan yang mengandung besi dan lain-lain. Anemia gizi defisiensi besi dapat dilihat dari kadar Hb (Haemoglobin) yang rendah dan penderita yang sering mengalaminya yaitu wanita. Yang bisa disebabkan karena menstruasi dan kehamilan. Anemia menjadi masalah kesehatan yang menyebabkan penderitanya mengalami kelelahan, letih dan lesu sehingga akan berdampak pada kreativitas
dan produktivitasnya. Tak hanya itu, anemia juga meningkatkan kerentanan penyakit pada saat dewasa serta melahirkan generasi yang bermasalah gizi. Angka kejadian anemia di Indonesia terbilang masih cukup tinggi. Berdasarkan data Riskesdas 2018, prevalensi anemia pada remaja sebesar 32 %, artinya 3-4 dari 10 remaja menderita anemia. Berdasarkan hasil skrining anemia yang dilakukan pada bulan Januari 2023 pada siswi kelas VII di SMP/MTS di wilayah Puskesmas Gemuh II, didapatkan hasil anemia sebesar 39,0%. Sedangkan target tahun 2023 dari Dinas Kesehatan Kabupaten Kendal presentase remaja putri dengan anemia sebesar 4,5%. Untuk Puskesmas Gemuh II dengan mempertimbangkan populasi remaja putri yang ada, target remaja putri dengan anemia sebesar 20%.
Beberapa dampak ketika seorang remaja putri menderita anemia yaitu dapat menimbulkan masalah kesehatan seperti penurunan imunitas, penurunan konsentrasi, mengalami penurunan prestasi dalam belajar,
tidak bugar dan mengalami penurunan produktivitas, serta anemia dapat memperbesar resiko kematian saat melahirkan, bayi lahir prematur, dan berat badan bayi yang cenderung rendah.
Kementerian Kesehatan telah melakukan intervensi spesifik dengan pemberian Tablet Tambah Darah (TTD) pada remaja putri dan ibu hamil. Selain itu, Kemenkes juga melakukan penanggulangan anemia melalui edukasi dan promosi gizi seimbang, serta penerapan hidup bersih dan sehat. Pada tahun ajaran baru, Puskesmas Gemuh II telah memberikan tablet tambah darah dan edukasi tentang pentingnya konsumsi tablet tambah darah serta anemia pada remaja. Hal itu ditambah dengan kurangnya informasi dengan stakeholder
dan komunikasi pemantauan tablet tambah darah dari keluarga remaja putri. Sehingga angka kejadian anemia pada remaja putri di Puskesmas Gemuh II masih tinggi.
Untuk mengatasi permasalahan tersebut tidak bisa dikerjakan oleh sektor kesehatan sendiri akan tetapi memerlukan kerja sama lintas sektor untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Sebagai tindak lanjut, maka Puskesmas Gemuh II sebagai lini terdepan dari struktur jajaran kementerian kesehatan menjadi penggerak utama di masyarakat dalam penanggulangan masalah gizi terutama anemia pada remaja putri dengan membuat inovasi RAGA SETIA.