Loading...
Lihat Inovasi Lain


KENCANI SI DIA dengan SERULING (KENALI SECARA DINI HIPERTENSI DAN DIABETUS dengan SKRINING KELILING)

PUSKESMAS GEMUH 01

Indonesia hingga saat ini masih dihadapkan pada masalah Triple Burden Disease, yaitu penyakit menular masih menjadi masalah kesehatan, sementara penyakit tidak menular mengalami peningkatan, ditambah dengan penyakit-penyakit yang muncul kembali (re-emerging infection diseases). Perubahan pola penyakit tersebut sangat dipengaruhi oleh perubahan lingkungan, perilaku masyarakat, transisi demografi, social ekonomi, dan sosial budaya. Peningkatan kejadian Penyakit Tidak Menular (PTM) berhubungan dengan peningkatan faktor resiko akibat perubahan gaya hidup dan pengaruh genetik, serta kumpulan factor-faktor resiko penyakit tidak menular seperti kurangnya konsumsi makanan sehat, kebiasaan merokok, kurangnya olahraga dan stress. . Permasalahanya bukan saja akibat kondisi sakit yang dirasakan, tetapi termasuk juga kerugian ekonomi baik secara individu/keluarga maupun nasional. Penyakit tidak meular dan permasalahnya secara langsung dan tidak langsung akan berdampak pada kualitas sumber daya manusia. Berdasarkan Permenkes No.71 tahun 2015 tentang Penanggulangan PTM, ada 4 kegiatan penanggulangan PTM yang didukung dengan sistem surveilans yang berkualitas. Kegiatan penanggulangan PTM tersebut dapat dilaksanakan di fanyankes dan komunitas. Kegiatan di fanyankes diselenggarakan dengan pelayanan terpadu, mencakup kegiatan promosi kegiatan, deteksi dini, perlindungan khusus dan penanganan kasus. Dalam Rangka meningkatkan taraf kesehatan masyarakat, puskesmas perlu melakukan upaya promosi kesehatan, salah satunya adalah bidang Pencegahan Penyakit Tidak Menular. Promosi kesehatan dilakukan dengan menyebarluaskan media komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE), penyuluhan kepada masyarakat, serta mewujudkan PHBS dengan membiasakan perilaku CERDIK di masyarakat. Kegiatan deteksi dini dilakukan di komunitas melalui posbindu dan fasilitas kesehatan tingkat pertama melalui pelayanan terpadu (Pandu PTM). Perlindungan khusus diberikan pada kelompok tertentu dalam pencegahan kanker leher Rahim dalam bentuk imunisasi HPV pada anak usia sekolah di 5 provinsi dan akan diperluas secara bertahap hingga ke seluruh provinsi. Penanganan kasus diselenggarakan di fasilitas pelayanan sesuai standar pelayanan atau Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK). Pelaksanaan program deteksi dini faktor resiko penyakit tidak menular mendukung pencapaian target indikator Renstra Kementrian Kesehatan 2020-2024 , yaitu meningkatnya kabupaten / kota yang melakukan pencegahan dan pengendalian PTM, dan mendukung pencapaian target SPM kabupaten / kota. Dalam penyelenggaraan pencegahan dan pengedalian PTM perlu dilaksanakan secara komprehensif dan terintegrasi melalui Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) dan Upaya Kesehatan Perorangan (UKP). Sehingga, perlu disusun suatu Kerangka Acuan Program Deteksi Dini Faktor Resiko Penyakit Tidak Menular sebagai panduan pelaksanaan program tersebut. Kenali Secara Dini Hipertensi Dan Diabetes Dengan Skrining Keliling (KENCANI SI DIA dengan SERULING) merupakan alternatif pelayanan intergratif antara beberapa program dan STAKEHOLDER yang dilaksakan dengan tujuan mendekatkan akses pelayanan kepada masyarakat khusunya keluarga dengan PTM , sebagai tahap awal inovasi “KENCANI SI DIA dengan SERULING“ dilaksanakan di kegiatan PKK dan kegiatan-kegiatan keagamaan yang ada di 8 desa wilayah kerja Puskesmas Gemuh I. Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan bahwa 71% kematian di seluruh dunia pada tahun 2016 disebabkan oleh PTM (41 juta kematian), terdiri dari penyakit jantung dan pembuluh darah (PJPD) 17,9 juta (31%), penyakit saluran pernafasan kronik 3,9 juta (6,8%), kanker 9 juta (15,6%),diabetes mellitus 1,6 juta (2,8%), serta PJPD lainya sebesar 5,9 juta (16%). Di tingkat nasional, hasil Riskesdas 2018 menunjukkan prevalensi PTM mengalami kenaikan jika dibandingkan dengan Riskesdas 2013 antara lain kanker, stroke , penyakit ginjal kronik, diabetes mellitus, dan hipertesi. Prevelensi kanker naik 1,4% (2013) menjadi 1,8% (2018); prevalensi stroke naik dari 7% (2013) menjadi 10,9% (2018). Penyakit ginjal kronik naik dari 2% (2013) menjadi 3,8% (2018). Berdasarkan pemeriksaan gula darah, prevalensi diabetes mellitus naik dari 6,9% (2013) menjadi 8,5% (2018) dan hasil pengukuran tekanan darah menunjukkan peningkatan prevalensi hipertensi dari 25,8% menjadi 34,1% (2018). Berdasarkan Riskesdas 2018, faktor resiko perilaku penyebab terjadinya PTM yaitu perilaku merokok pada remaja meningkat dari 7,2% (2013) menjadi 9,1% (2018). Proporsi kurangnya aktifitas fisik naik dari 26,1% (2013) menjadi 33,5% (2018). Hal lain yang juga merupakan faktor resiko PTM adalah proporsi konsumsi buah dan sayur yang kurang pada penduduk yakni sebesar 95,5%. Faktor resiko PTM berikutnya yang juga mengalami peningkatan adalah obesitas dari 14,8% (20130 menjadi 21,8% (2018). Awal perjalanan penyakit tidak menular seringkali tidak bergejala dan tidak menunjukkan tanda klinis secara khusus sehingga datang sudah terlambat atau sudah berada di stadium lanjut akibat tidak mengetahui dan tidak menyadari kondisi kelainan yang ada pada dirinya. Penyakit tidak menular dapat dicegah dengan mengendalikan faktor resikonya, yakni merokok, diet yang tidak sehat, aktifitas fisik, konsumsi sayur dan buah-buahan yang seimbang serta konsumsi minuman beralkohol. Pengendalian faktor resiko penyakit tidak menular merupakan upaya untuk mencegah agar tidak terjadi faktor resiko bagi yang belum memiliki faktor resiko, mengembalikan kondisi faktor resiko PTM menjadi normal atau mencegah terjadinya PTM bagi yang memiliki faktor resiko ataupun yang sudah menyandang penyakit tidak menular. Strategi pengendalian penyakit tidak menular dilakukan dengan penyelenggaraan pencegahan dan pengendalian PTM yang dilaksanakan secara konprehensif dan terintegrasi melalui Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM) dan Upaya Kesehatan Perorangan (UKP), kegiatan ini disebut dengan Program Pengendalian Penyakit Tidak Menular merupakan wujud program dalam melakukan kegiatan deteksi dini dan monitoring faktor resiko PTM serta tindak lanjutnya yang dilaksanakan secara terpadu, rutin, dan periodik. Dengan demikian, program pengendalian penyakit tidak menular sangat kita perlukan, dimana program ini dapat membantu masyarakat untuk melakukan deteksi dini tentang faktor resiko penyakit tidak menular baik pada dirinya sendiri, keluarga, maupun orang-orang yang ada di lingkunganya.
1. MENURUNKAN JUMLAH KASUS HT DAN DM 2. MENDEKATKAN AKSES PELAYANAN 3. TERWUJUDNYA PELAYANAN KESEHATAN INTERGRATIF MELALUI “KENCANI SI DIA dengan SERULING”
1. Terdeteksinya faktor resiko penyakit tidak menular oleh masyarakat sedini mungkin 2. Terselengaraanya penanganan faktor resiko penyakit tidak menular oleh masyarakat sesegera mungkin 3. Terselenggaranya kegiatan pemantauan fakto resiko penyakit tidak menular oleh masyarakat sebaik mungkin 4. Meningkatnya kesadaran masyarakat akan penyakit tidak menular dan cara pencegahan serta pengendaliannya.
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2019 Tentang Standar Teknis Pemenuhan Mutu Pelayanan Dasar Pada Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan Penyakit Tidak Menular, bahwa Puskesmas Gemuh I pada tahun 2024 telah memenuhi target.