Inovasi CINTA MILDA merupakan suatu upaya untuk menuju Angka Kematian Ibu nol. Inovasi ini berawal dari adanya kasus Kematian Ibu hamil di tahun 2015, 2018, dan 2019 di wilayah kerja Puskesmas Kendal II. Adapun beberapa kasus yang sering ditemukan Ibu Hamil dengan resiko tinggi riwayat Persalinan Seksio Caesarea, Hipertensi, Diabetes Millitus, Anemia, Obesitas, VCT HIV +, HbsAg +, Jantung, TBC, Infeksi Menular Seksual, Autoimmune, Myopia, Tumor, Cancer, Astma, Ketuban Pecah Dini, Ekstraksi vakum, forsep, keguguran berulang, Preeklamsia, Kurang Energi Kronis (KEK), TB Ibu hamil <145cm, Anak lebih dari 4, Jarak anak <2th, Jarak anak >5th, Usia Ibu hamil >35th, Usia Ibu hamil terlalu muda <20th, Riwayat pendarahan pasca salin dan riwayat infeksi pada masa nifas . Inovasi Cinta Milda terus berjalan dan berkembang dengan berbagai progam baru yang bertujuan memantau kondisi ibu hamil resiko tinggi pada masa kehamilan sampai masa pasca persalinan untuk memastikan ibu dan bayi sehat. Salah satu program terbaru yaitu dengan memberikan kesempatan kepada ibu hamil untuk bisa berkonsultasi online melalui whatsapp on call 24 jam ke bidan kelurahan yang kemudian akan dilanjutkan ke grup WA Cinta Milda yang terdiri dari semua tim pelaksana Inovasi seperti dokter, Bidan Koordinator KIA, bidan kelurahan, analis dan perawat. Tujuan dari konsultasi online 24 jam tersebut untuk menghilangkan rasa kekhawatiran ibu hamil apabila menemui permasalahan yang berhubungan dengan kehamilannya, seperti kondisi ibu hamil tiba-tiba memburuk, kesulitan dalam mendapatkan pelayanan Kesehatan, dan lain-lain. Ketika mendapati hal tersebut tim akan sigap segera membantu permasalahan tersebut dengan cara melakukan pemantauan dan memberikan perawatan sesuai dengan kondisi ibu hamil tersebut. Hasil dari adanya Inovasi ini pada tahun 2020 hingga 2023 Puskesmas Kendal II tidak mempunyai kasus Kematian Ibu. Pada tahun 2024 Inovasi Cinta Milda terus berupaya berkembang dengan melakukan pembaruan agar dapat mempertahankan Angka Kematian Ibu Nol di tahun berikutnya dengan lebih mengutamakan strategi preventif.